Antibiotik untuk jerawat sebaiknya hanya dipakai sesuai resep dokter. Pada 3 November 2026, BPOM mengajak masyarakat memakai antibiotik secara bijak untuk mencegah resistansi antimikroba, yaitu kondisi saat bakteri menjadi kebal terhadap obat. Untuk jerawat, dokter kulit meresepkan antibiotik sesingkat mungkin dan selalu bersama obat jerawat lain supaya bakterinya tidak kebal.
Artikel ini merangkum pesan BPOM, fakta antibiotik jerawat dari American Academy of Dermatology (AAD), langkah kalau dokter meresepkan antibiotik, dan contoh rutinitas perawatan jerawat dari Kira.
Apa kata BPOM soal antibiotik
Dalam berita resmi BPOM, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan ajakan ini lewat kegiatan Self-Care AMRun 2026 di Bali pada 1 November, yang bertepatan dengan kampanye World AMR Awareness Week setiap November. Poin pentingnya:
- Penggunaan antibiotik yang kurang bijak dapat memicu kekebalan bakteri terhadap obat.
- Antibiotik tidak efektif untuk infeksi virus, seperti influenza biasa.
- 63,75% apotek masih menyerahkan antibiotik tanpa resep dokter, menurut hasil pengawasan BPOM secara nasional.
- Ajakan BPOM: tidak memakai antibiotik tanpa resep dokter, menyimpan obat dengan aman, dan membuang sisa obat lewat mekanisme yang tepat.
Antibiotik untuk jerawat menurut dokter kulit

Menurut AAD, jerawat bukan infeksi, tapi antibiotik bisa sangat membantu jerawat yang dalam dan nyeri. Antibiotik tertentu mengurangi bakteri penyebab jerawat di kulit dan meredakan peradangan, sehingga jerawat berkurang.
Dokter kulit meresepkan antibiotik untuk waktu sesingkat mungkin. Karena jerawat butuh waktu untuk diobati, biasanya artinya 3 sampai 4 bulan. AAD juga menjelaskan bahwa kalau dipakai sendirian, antibiotik cepat kehilangan kemampuannya melawan jerawat dan bakterinya bisa menjadi resistan. Karena itu dokter kulit memasangkannya dengan obat lain seperti benzoyl peroxide atau adapalene gel.
Hal yang sama berlaku untuk antibiotik oles. AAD menyebut antibiotik oles dipakai bersama obat atau sabun wajah yang mengandung benzoyl peroxide untuk mengurangi risiko resistansi antibiotik.
Kalau dokter meresepkan antibiotik untuk jerawat

- Pakai semua obat di resep, bukan antibiotiknya saja, supaya waktu pemakaian antibiotik bisa sesingkat mungkin.
- Rawat kulit dengan lembut untuk mengurangi jerawat kambuh.
- Datang saat kontrol, supaya dokter bisa menilai apakah pengobatannya berhasil atau perlu diganti.
- Lanjutkan perawatan setelah kulit bersih. Kebanyakan orang bisa menjaga kulit tetap bersih dengan obat oles, sehingga tidak perlu antibiotik lagi.
Langkah ini diringkas dari panduan AAD. Jangan membeli atau memakai antibiotik untuk jerawat tanpa resep, dan jangan menghentikan atau memperpanjang sendiri pemakaian yang sudah diresepkan.
Perawatan jerawat harian dari Kira
Antibiotik adalah urusan dokter. Untuk perawatan harian, Kira bisa membantu menyusun rutinitas dari satu selfie. Berikut hasil asli Kira untuk pertanyaan “jerawat dan bekas jerawat saya gimana ngatasinnya?” dari satu selfie model AI:
Untuk model ini, Kira membaca kulit kombinasi dengan jerawat aktif dan bekas jerawat. Rutinitasnya dimulai dari pembersih wajah yang lembut dengan asam salisilat, lalu toner, serum dengan niacinamide atau vitamin C untuk bekas jerawat, dan pelembap non-comedogenic. Saran Kira adalah saran AI, bukan diagnosis medis. Kalau jerawat parah atau tidak membaik, periksakan ke dokter kulit.
Panduan lengkap merawat kulit berjerawat ada di cara mengatasi jerawat dan skincare untuk kulit berminyak. Untuk noda yang tertinggal, baca cara menghilangkan flek hitam.
Tanya Kira rutinitas untuk kulitmu
Kirim selfie wajah depan dengan cahaya alami ke Kira di WhatsApp, lalu tanyakan cara merawat jerawatmu. Kira membalas dalam 10 sampai 15 detik dengan langkah rutinitas, bahan yang dicari dan dihindari, serta tips harian. Lihat contoh hasil jerawat dan noda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah jerawat harus diobati dengan antibiotik?
Tidak selalu. Menurut American Academy of Dermatology, jerawat bukan infeksi, tapi antibiotik bisa membantu jerawat yang dalam dan nyeri dengan mengurangi bakteri dan peradangan. Keputusan memakai antibiotik ada di dokter, dan antibiotik untuk jerawat selalu dipakai bersama obat jerawat lain.
Berapa lama antibiotik untuk jerawat boleh dipakai?
Dokter kulit meresepkan antibiotik untuk jerawat sesingkat mungkin, biasanya 3 sampai 4 bulan, walaupun sebagian orang butuh waktu lebih lama. Memakai semua obat di resep, merawat kulit dengan lembut, dan datang saat kontrol membantu mempersingkat waktu pemakaian antibiotik.
Kenapa antibiotik jerawat tidak boleh dipakai sendirian?
Menurut American Academy of Dermatology, antibiotik yang dipakai sendirian cepat kehilangan kemampuannya melawan jerawat, dan bakterinya bisa menjadi resistan. Karena itu dokter kulit memasangkannya dengan obat lain seperti benzoyl peroxide atau adapalene. Resistansi antibiotik adalah masalah kesehatan global.
Bolehkah membeli antibiotik jerawat tanpa resep?
Sebaiknya tidak. BPOM mengajak masyarakat tidak memakai antibiotik tanpa resep dokter, karena penggunaan yang kurang bijak memicu kekebalan bakteri. Pengawasan BPOM menemukan 63,75% apotek masih menyerahkan antibiotik tanpa resep. Untuk jerawat, konsultasikan dulu ke dokter kulit.
Sumber
Fakta di artikel ini merujuk ke sumber berikut.
- Berita kecantikan
- Jerawat
- Antibiotik
- BPOM


